Senin, 14 November 2011

Artikel Budaya Karo, Museum Karo

Museum Karo, Hadir Kembali
Di Tengah-tengah Kita

Oleh: Betlehem Ketaren, SH

            Kenyataan bahwa masyarakat Karo memiliki seni budaya yang amat kaya, unik dan mempunyai daya tarik tersendiri, memerlukan upaya dan karya dalam menggali nilai-nilainya yang bernas dan bermutu untuk dipertahankan, dipelihara dan dikembangkan secara turun temurun guna kepentingan manusia yang universal.
            Dari jauh-jauh hari, yakni pada  zaman pendudukan kolonial Belanda, Lembaga misi Nederlandse Zendelinggenootschap (NZG) sudah menunjukkan perhatiannya yang mendalam pada kebudayaan Karo yang dibuktikannya dengan kerja keras mengupayakan menterjemahkan Alkitab kedalam bahasa Karo dan terlebih-lebih dengan mendirikan sebuah museum Batak Karo di Desa Raya (terletak di pinggir jalan Kabanjahe-Berastagi, pada Km 69,5 dari Medan) yang konon bersebelahan dengan universitas beken pada zamannya, bernama Sekolah Tinggi Raya.
            Sejarah menjadi saksi bisu bahwa museum itu pada tahun 1917 telah berdiri dengan megah dengan dengan arsitektur Karo yang agung sebagaimana gambarnya pernah dimuat pada “Gambar Tempoe Doeloe” salah satu koran terbitan Medan, museum mana, luluh lantak dan rata dengan tanah pada tahun 1949 dengan politik perang “rap-rap” (bumi hangus).
            Pemerintahan Kabupaten Karo dibawah pimpinan bupati Tampak Sebayang, SH, dengan cermat pernah melihat perlunya membangun kembali museum Karo, maka pada akhir 1970-an kembali membangunnya di lokasi yang sama melalui C.V. Piun yang dipimpin oleh Pangkat Sembiring Berahmana. Namun demikian sejak berdiri dan entah karena apa, museum tersebut tidak pernah maksimal berfungsi sebagai museum. Padahal bangunannya yang megah dan kokoh itu tersebut sempat menjadi salah satu ikon parawisata Karo dan sampai sekarang tetap menjadi salah satu gambar sampul undangan “Tenah Erdemu Bayu” maupun sampul buku pelajaran SMP muatan lokal “Bahasa dan Budaya Daerah Karo” sebagaimana dikeluarkan Perc. CV. Sitepu RG. Tapi karena tak pernah dirawat dengan baik maka museum itu remuk dimakan usia, serta kemudian tanpa kata dan pesan yang jelas bagi kita semua, museum itu telah ambruk pada beberapa bulan yang lalu.
            Melihat kenyataan itu, seorang Joosten Leonardus Edigius seorang misionaris dari Belanda yang lebih dikenal sebagai pastor Leo Ginting (bere-bere Sitepu), sejak ditugaskan di Kabanjahe menjadi  tak pernah tidur nyenyak, dan akan semakin gelisah ketika kemudian ditempatkan di Berastagi kalau belum mendirikan kembali museum Karo, yang akan difungsikan sebagai menara air pemeliharaan, pengembangan serta sebagai arena pameran keagungan budaya Karo kepada dunia.
            Berawal dari menulis buku kamus “Indonesia-Karo”, buku “Mbuah Page Nisuan” dan buku-buku lain menyangkut budaya, beliau kemudian memprakarsai pembangunan gereja Inkulturatif Karo di Berastagi pada tahun 2001 dan sejak diresmikan pada tahun 2005, yang ternyata tak henti-hentinya dikunjungi wisatawan dari berbagai latar belakang suku bangsa, asal negara, budaya dan agama yang berbeda.
            Kenyataan ini membuat beliau semakin terpanggil mengemban tugas melaksanakan upaya melestarikan nilai-nilai budaya Karo, mengingat tugas Gereja yang luhur dalam menjunjung tinggi nilai-nilai budaya semua bangsa  dan suku di dunia ini, sebagaimana dirumuskan  oleh Konsili Vatikan II dalam Sacrosanctum Concilium nomor 37 dan Konsili Gaudium et Spes nomor 53-62. 
            Para sahabat sudah dikumpulkan untuk berbagi “kegelisahan” dan untuk menghimpun barang-barang dan perkakas-perkakas sebagai Pusaka Karo yang akan dipamerkan berikut ratusan gambar “tempoe doeloe” yang sudah diketemukan dengan pencarian kemana-mana, pun sudah dipasang pada tempatnya. Kantor-kantor pemerintahan daerah dan swasta juga sudah dikunjungi untuk meminta nasehat dan  bantuan moril “pemenan ergegeh” dan ketika pejabat-pejabat tersebut berkunjung, mereka menyatakan appresiasi dukungan serta menyatakan tidak sabar lagi menunggu museum difungsikan.
            Lebih jauh tentang museum ini, sebagaimana tertuang dalam akte pendiriannya yang dibuat pada kantor notaris Fransiska Br. Bangun, SH. M.Kn dan didaftarkan pada kantor Pengadilan Negeri Kabanjahe, museum ini dikelola dalam Lembaga Pusaka Karo oleh P. Leo Joosten Ginting selaku Ketua, Bpk. Zakaria Sinuhaji selaku Wakil Ketua, Bpk. Betlehem Ketaren, SH selaku Sekretaris dan Bpk. Drs. Usaha Tarigan sebagai Bendehara dan dalam waktu yang dekat serta sedang dalam proses, lembaga ini akan ditingkatkan menjadi Yayasan Pusaka Karo yang akan didaftarkan pada Kantor Hukum dan Hak Asasi masusia Republik Indonesia.
            Lembaga Pusaka Karo yang telah didirikan tersebut dalam dalam keseluruhan fungsinya guna memelihara, melestarikan dan mengembangkan budaya Karo secara turun temurun, akan bekerja dengan kegiatan-kegiatan, sebagai berikut:
1. Mendirikan, mengelola dan mengembangkan Museum Pusaka Karo untuk   menanamkan dan menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan pada budaya Karo dengan mengumpulkan, merawat, mendokumentasikan, memamerkan dan mempublikasikan serta melestarikan situs-situs bernilai sejarah, seni dan budaya Karo;
2. melestarikan alam beserta isinya yang mengandung nilai-nilai budaya dan menyelamatkannya dari kepunahan guna menghindari berbagai krisis identitas selaras dengan kemajuan jaman;
3. melakukan dan mewujudkan pembangunan bernuansa budaya melalui kerjasama dengan pelbagai pihak untuk mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan umat manusia;
4. mengumpulkan, menyimpan, merawat dan mendokumentasikan berbagai karya seni budaya baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud di masyarakat Karo serta memamerkan, mempublikasikan dan mengembangkannya;
5. mengumpulkan, menghidupkan kembali dan mengembangkan berbagai pengetahuan dan kearifan lokal sebagai modal dalam memenuhi kebutuhan manusia sesuai dengan kondisi dan sumber daya alam masyarakat Karo.
6. melakukan dan memfasilitasi berbagai pengkajian dan penelitian ilmiah dan non ilmiah di berbagai bidang untuk didokumentasikan dan dipublikasikan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pada umumnya dan masyarakat ilmiah pada khususnya;
7. mendampingi dan memberdayakan masyarakat melalui pendidikan, pelatihan, lokakarya, diskusi, seminar, kampanye, penyuluhan, advokasi di bidang sosial, budaya, seni, agama, gender, kesehatan, lingkungan, ekonomi, pertanian dan hukum menuju kemandirian hidup yang beradab dan bercirikhas.
8. membangun dan memperkuat jaringan kerjasama dengan berbagai pihak baik lembaga pemerintah maupun swasta, baik lembaga masyarakat maupun perorangan, mulai tingkat lokal, nasional dan internasional.
9. mendirikan, mengelola dan mengembangkan perpustakaan untuk memfasilitasi pembelajaran dan penumbuhan minat baca masyarakat;
10. menerbitkan dokumen dan data-data seni budaya Karo serta kearifan lokal serta hasil-hasil penelitian agar masyarakat luas dalam memanfaatkannya sehingga dapat memahami, menghargai dan mengembangkannya;
11. menerbitkan bulletin, brosur, majalah, selebaran, poster dan sarana lain-lain yang dianggap sesuai dengan sarana untuk mensosialisasikan dan mengkomunikasikan seni, budaya dan kegiatan pelestarian kepada masyarakat luas;
12. mendirikan, melangsungkan dan menyelenggarakan tempat-tempat pemeliharaan dan pengembangan pendidikan bidang kebudayaan dalam bidang-bidang meliputi: seni tari, seni musik, seni rupa, seni lukis, seni vokal, koor, seni teater/drama, dan pemeliharaan benda-benda bersejarah, seta keahlian tertentu seperti fotografi, musik dan bahasa;
13. melakukan kegiatan pendidikan dan penyuluhan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian alam, lingkungan nilai-nilai budaya dan agama yang luhur dan konstruktif dan menumbuhkan kecintaan pada budaya Karo;
14. mengusahakan pelestarian, rehabilitasi, renovasi rumah-rumah adat, mengkonservasikan benda-benda bersejarah, situs megalitik dan situs bersejarah.
15. membantu pemerintah  dalam menunjang sektor parawisata untuk menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke dataran tinggi Karo sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata.
16. mengumpulkan dan menyimpan buku-buku atau majalah tentang Karo yang pernah diterbitkan, baik yang dalam bahasa Karo, bahasa Indonesia maupun bahasa asing untuk disimpan di dalam perpustakaan Museum yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan dalam rangka studi/penelitian;
17. mengadakan seminar tentang budaya Karo bagi kelompok masyarakat, tokoh masyarakat adat serta para cendekiawan, sarjana dan mahasiswa serta memberi ceramah-ceramah, simposium, lokakarya dan konferensi;
18. mengirim putera-puteri Karo untuk studi Antropologi budaya dan studi di bidang permuseuman dan selanjutnya kembali ke Karo untuk membangun daerah Karo melalui kegiatan museum;
19. merevitalisasi, menumbuhkan dan mengembangkan seni budaya melalui kegiatan inkulturasi dalam penghayatan dan pengamalan keagamaan, pendalaman pengetahuan keagamaan, pertemuan rohani, retret, kursus, lokakarya, pelatihan dan seminar;
20. melakukan kegiatan-kegiatan yang menghidupkan kembali karya seni dan budaya Karo, membuat dan menyelenggarakan pameran, perlombaan di bidang seni budaya Karo demi pemeliharaan kesinambungan kegiatan pengembangan budaya, kemanusiaan, alam dan agama.
            Sebelum pintu museum tersebut dinyatakan terbuka, dua mahasiswa Antropologi dari salah satu universitas di Medan telah datang dan mohon diizinkan untuk mengadakan riset untuk kepentingan studinya, banyak anak sekolah melongokkan kepala ketika tukang masih bekerja dan turis-turis yang lewat juga terkadang memaksa untuk melihat-lihat ke dalam.
            Museum Karo dengan nama Museum Pusaka Karo yang terletak disebelah Pajak Buah Berastagi atau sebelah kantor Telkom atau tepatnya di Gereja Katolik (lama) Jln. Perwira No. 3 Berastagi tersebut, kalau tidak ada aral melintang, pada bulan Desember 2011 ini akan dibuka untuk umum dan dengan pintu terbuka menerima kehadiran kita semua baik untuk belajar maupun untuk melepas rindu (mburo ate tedeh) kepada barang-barang dan gambar-gambar pusaka Karo sebagai kekayaan kebudayaan kita yang pasti akan berguna dalam mengembangkan dan mengukuhkan jiwa serta  mengukukuhkan identitas diri, serta menjadi tempat bagi kita senantiasa berdiskusi tentang usaha-usaha pengembangan budaya Karo sebagai bagian dari budaya daerah Sumatera Utara sebagai khazanah budaya nasional kita.
            Museum Pusaka Karo dan Lembaga Pusaka Karo ini, sebagaimana fungsinya diatas, sesungguhnya dan seharusnya merupakan karya dan bakti kita semua, seluruh civitas akademika serta segenap orang-orang yang peduli akan budaya dan manusia, demi suatu cita-cita yang mulia dalam melestarikan kebudayaan Karo untuk tetap abadi, dengan keagungannya yang sarat nilai akan kebaikan dapat memberi sumbangsih pada pembangunan manusia Karo khususnya, manusia Indonesia khususnya dan sekaligus pada pada peradaban dunia pada umumnya.

*Staff Pengajar i  Universitas Quality; Sekretaris Paroki St. Fransiskus Asisi Berastagi; Sekretaris Lembaga Pusaka Karo.

Artikel Budaya Karo

RUNGGU: ANTUSEN RAS GUNANA

(Betlehem Ketaren, SH)*
               Paksa kita kita kitik-kitik denga pe ndube, man banta enggo me rusur imamahken kerna kata ”runggu”.  Kimaun tupung nande ras bapanta ersikap-sikap muat berkat kirumah-kirumah, nina: ”Enda kami ku rumah mamandu lako ngerunggui kerja impalndu!”, entah pe sibegi ka megati cakap nande kempak bapanta, umpamana alu nina: ”To dage ku si mate-mate ndai, ula kari lalap lenga runggu!”.
            Tep-tep kuta pe ndube, lit rumah si nigelari Rumah Bale, e me ingan runggu guna ngerunggui runggu-runggun kuta.  Terdauhen, i kuta Raya Simalem, kuta kemulihen Ketaren mergana si biak perbapan Karo-karo Sepulu Dua Kuta,  ndube lit sada uruk si nigelari ”Uruk Runggu” lako jadi ingan runggu Karo mergana ras Anak Beruna ngerunggui keperlun-keperlun kuta si sepulu dua e me kuta-kuta si lit  segedang-gedang dalan galang, Doulu nari seh  ku kuta Kandibata.  Si bagenda rupana maun pe lit ka nge ndube ijah-ije ibas tep-tep terpuk persadan-persadan kuta i Taneh Karo Simalem enda.

Antusen Runggu
           Runggu e me sada lakon arih-arih muat si mehuli ibas kesemalen  adat.  Runggu tuhu-tuhu jadi bagin kegeluhen ibas kita kalak Karo, janah ibas runggu me adat e tangkas teridah dingen nggeluh, janah kegeluhenna banci ikataken jadi palas ras tampuk kegeluhen adat Karo, nginget maka  tep-tep lakon peradaten anem kitik-kitik seh ku lakon si mbelin:  ibenai, ilakoken ras idungi me ibas runggu. E maka adi lit runggun Ngembah Belo Selambar, runggun Erdemu Bayu, runggun Mukul, runggun Ndungi adat Cawir Metua, runggun Ngampeken Tulan-tulan ras lakon-lakon si debanna, pulung me sangkep nggeluh, dingen itengah-tengan kepulungen e ilakoken me runggun si nibabai anak beru pekepar, mbaba cakap runggu kempak kalimbubu seh ku puang erkelangken biak senina si mada lakon.
 Lakon tah pe Guna Runggu
           Megati kal kalak si nguda denga nungkun-nungkun sapih-sapih ia, nina ”Engkai maka runggu lalap ras lalap runggu, adi kin labo lit kerna si mbaru si nirunggui? La kin iangka tua-tua e maka gendang enggo terincuh lako ilandeki, la kin ndia madat-madat matana ras engkai maka e...e.. saja sinicakapken seh melawen?”. Situhuna runggu e tuhu-tuhu erguna, janah gunana, e me kap:
1.   Lako ngerencanaken, nimbang-nimbang ras lako netapken perdalinen kegeluhen rikutken adat. (”...dage, meriah nge ukurndu bere-berendu erdemu ras...mergana sue ras penungkunen anak beruna?”, ntah pe ”...ibas terang-terang wari pagi, rumah apai nari ibas kam si ngalo bere-bere berkat ku jambur?”), ras si debanna.
2.   Lako erbahan perdalinen kegeluhen peradaten jadi pinter, rembang tengah dingen erlayas. Kiniras-rasen tuhu siawin-awinen ras kepentingen pekepar si nirunggui, tapi ibas runggun, anak beru raduken ras tembe-tembena ras biak senina rimbangken anak beru temanna ercakap, erbahan ketetapen, keputusen arah sukaten uga orat adat, uga kin pendalinken jelma si enterem kerna isi si nirunggui. Rikutken ras penungkunen-penungkunen gelah runggun tetap ertetapen erpalasken kesemalen si sue ras adat dingen erkiteken si e la njuruken ilebe-lebe jelma si enterem.
3.   Lako pepantek kiniersadan ibas rakuten kinikuhen sangkep nggeluh.  Ibas runggun me peradaten ilakoken, e maka ije pulung kerina sangkep nggeluh jadi si njayam ras jadi  saksi runggun, e me sukut si mada dahin (sembuyak, senina, sepemeren, sendalanen ras sepengalon), kalimbubu si telu-telu sada dalanen (si ngalo bere-bere tupung lakon nereh ras igelari si ngalo ulu emas tupung pe-empoken ras ikataken ka kalimbubu si mada dareh tupung ngadati kalak mate tah pe tupung lakon mengket rumah) ras puang kalimbubu si telu-telu sada dalanen radu ras kerina anak beru (anak beru dareh/cekuh baka, anak beru cekuh baka tutup, anak beru tua ras si niapit anak beru si niangkip ras si ibas tegun  empo, anak beru menteri bage pe anak beru si ngikuri. Mbelin gia kerja si nilakoken adi lit si la pulung tupung runggu ras ibas mata dahin, ia si la banci lang muat bagin ibas lakon e, maka lakon e la metunggung janah juru me si mada dahin, tapi kitik-kitik gia kerja ni lakoken tapi pulung ije si biak pulung rikutken biak lakon e lakon kitik-kitik maka lakon e labo juru, idur mata si enterem.
4.   Lako pebindangken (sosialisasi) isi runggun. Gia isi runggu rusur ikataken kalak si nguda denga la lit perubahen, gel-gel saja, tapi si tuhuna runggu e erguna kal lako pebindangken ulih runggu e, jadi momo man jelma si enterem, janah lako si e kerina si pulung ibas runggu, subuk si biak runggu, si jadi saksi runggun bage pe si ninggel-ninggel, arus me muat bagin pembarken ulih runggun.  E maka adi kin runggun lako erbahan kerja umpamana,  kerja e la serung ras kerja si deban ibas sada kuta ntahpe sada perkade-kaden, persima-siman, erkiteken kenca dung runggu, i kede, i rumah tah pe i tapin pe ipebetehken me isi runggun e man kalak si nijumpai.  Seakatan si e kerina si runggu jadi si njayam  ulih runggun erdalin sentudu ras si nirungguken. Lako si e ibas runggu Ngembah Belo Selambar umpamana ibahan me tanda ”inget-inget”.

Tenah Surat
Arah kai si enggo isuratken idatas, siantusi  me, maka runggu erguna lako pepantek adat raduken ras kerina lakon-lakon kegeluhenna.  Runggu ntah pe rapat ninta ibas cakap si genduari, tuhu jadi bagin sada dampar si penting subuk ibas kegeluhen perpulungen-perpulungen, rarasen-rarasen bage pe ibas kegeluhen pemerentahen. Tep-tep terpuk kegeluhen e, banci saja enggo itetapken torosen (tata tertib) runggunna subuk alu isuratken tah pe alu la isuratken. Nginget-nginget maka kitik-kitik nari kita imamahi kerna antusen ras lakon runggu, arusna min labo sukar siakap erbahan tah pe muat bagin ibas sada runggun! Alu bage, oratna min  labo cakapta dua-dua tah pe telu-telu ateta jadi ikuten, tah pe adi enggo ngerana kita ras kemberahenta, anak-anakta tah pe teman kompakta, labo min siakap kita enggo runggu ibas gelar perpulungen, ibas gelar kuta apai ka ibas gelar jelma si rulo! Makin arah runggu kerina si biak runggu muat bagin ngelakoken tugas-tugasna dingen reh tetapna ukurna dalankensa, janah arah runggu me tep-tep si runggu ras kerina ginemgem ngerencanaken nimbang-nimbang ras netapken kai si niarus idalanken sentudu ras paksa ras inganta tading? Ma kin ibas runggu me inganta ras-ras erpenulih ku pudi kerna kai ras uga dahinta ras uga ka nerusken ras erbahan tetap erlayas? Adi bage, tentu kita la mungkin jadi si man runggunken! Sebab nina kalak pentar: ”Sabap adi jalan pintas niakap pantas maka melala si terulin jadi ketadingen!”. Bujur.

*Staff Pengajar i  Universitas Quality; Sekretaris Paroki St. Fransiskus Asisi Berastagi; Sekretaris Lembaga Pusaka Karo; Pengasuh & Editor ”Ralinggungi”: Majalah Gereja Ibas Cakap Karo.

Artikel Budaya Karo

RURUN, IDENTITAS KARO YANG UNIK


         Sesungguhnya masyarakat Karo memiliki seni budaya yang amat kaya, merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Kenyataan bahwa kebudayaan Karo merupakan salah satu khazanah kebudayaan Nasional, memiliki keunikan serta daya tarik tersendiri, juga tidak perlu disangkal oleh siapapun. Kebudayaan Karo sebagai suatu “local genius” juga harus berhadapan dengan kebudayaan global dengan buah simalakama-nya, yang bila response terlalu besar dan challance terlalu kecil akan mengakibatkan stagnasi sedangkan bila terlalu challance besar dan response terlalu kecil akan mengalami kehancuran, juga merupakan bagian ritme bahkan irama kehidupannya yang konkrit.
                Kalau kita tinggal di Padang Bulan atau Kampung Lalang di Medan, atau di Cililitan atau juga di Peninggaran di Jakarta dimana banyak orang Karo berdiam dan tentu banyak juga yang berasal dari daerah Singalur Lau (Tiga Binanga dan sekitarnya), maka kita akan sering mendengar orangtua memanggil anakna dengan nama alias yang disebut dengan “rurun”.
          Kata rurun berasal dari kata “uru-urun”, menurut Karo-Indonesia sebagaimana ditulis Darwin Prinst (Bina Media, Medan 2002), berarti “nama panggilan”, “julukan” atau “nama julukan”, yang ditujukan guna “menggoda”, “mengolok-olok”, “meledek” atau dalam bahasa Karo disebut dengan “nguru”.
            Dalam kehidupan masyarakat Karo, perbuatan mengolok-ngolok, meledek atau menggoda dengan rurun ini merupakan perbuatan berdasarkan kebiasaan adat yang dilakukan berdasarkan rasa cinta kasih guna merapatkan hubungan bathin dalam persaudaraan yang umum. Menurut adat sampai sekarang juga tetap terpelihara dengan baik, adalah suatu kebiasaan yang dianggap luhur untuk tidak menyebut nama secara langsung  kecuali bagi orang atau saudara yang umurnya jauh lebih muda. Padahal kebiasaan untuk membuat nama pada orang Karo juga merupakan suatu upacara yang dilakukan oleh orang yang dituakan dan dikhususkan tugasnya oleh adat dan apalagi kemudian hari dilaksanakan pergantian nama itu, akan diumumkan kepada masyarakat luas (teman sekampung) dengan membagikan gula dan kelapa sebagai tanda pegingat.
            Pemakaian rurun pada awalnya sangat dominan pada masyarakat Karo di wilayah Singalur Lau dan di wilayah Berneh dan kurang umum di wilayah Karo Julu (Berastagi, Kabanjahe dan sekitarnya), di wilayah Karo Liang Melas (Bahorok, Marike, Telagah dan sekitarnya), di wilayah Karo Jahe (Sibolangit, Sibiru-biru, Delitua, sampai dengan Hamparan Perak dan sekitarnya) namun pada zaman sekarang semua manusia termasuk orang karo sudah sangat mobile kemana-mana, menjadikan pemakaian rurun ini bisa ditemukan dimana-mana pula.
            Adapun rurun-rurun yang dimaksud, sesuai dengan kelompok-kelompok marga yang ada pada masyarakat Karo dapat dipaparkan sebagai berikut:

1. Rurun-rurun marga Karo-karo, yaitu: KOLAM = Karo Karo Ketaren; CINOR = Karo-karo Kaban;  GANDING = Karo-karo Sitepu; GUTTAR = Karo-karo Surbakti i Kuta Buluh; MITUT = Karo-Karo Kacaribu; PUHU = Karo-karo Purba; GETAH = Karo-karo Kaban; MAKOI = Karo-karo Sitepu Naman.
 
2. Rurun-rurun marga Ginting, yaitu: CIAK = Ginting Suka; GURA(H) = Ginting Sugihen di Juhar; LAJOR = Ginting Tumangger; LAYUK = Ginting Jadibata; MBURAK = Ginting Munthe; SUKA = Ginting Suka; JAWI = Ginting Jadibata; RAGA = Ginting Suka di Juhar.
   
3. Rurun-rurun marga Sembiring, yaitu: JEMPUT = Sembiring Milala Sibayak Sarinembah; KAWAR = Sembiring Berahmana; RONGKAM = Sembiring Kembaren; SUKAT = Sembiring Milala; PELCIK = Sembiring Milala Sarinembah; GANDI = Sembiring Depari; POLA = Sembiring Depari; TOGONG = Sembiring Depari.
 
4. Rurun-rurun margaTarigan Mergana, yaitu: BATU = Tarigan Sibero; KAWAS = Tarigan Sibero Rumah Jahe Juhar; MONDAN = Tarigan Gersang di Pergendangen.

5. Rurun-rurun marga Perangin-angin, yaitu: BALANDUA = Perangin-angin Sebayang; GADING = Perangin-angin Beliler; GANTANG = Perangin-angin; MORAH = Perangin-angin Jinabun; RABUN = Perangin-angin Sebayang Kuala; RIMBUN = Perangin-angin Singarimbun; TEGER = Perangin-angin Bangun; JAREN = Perangin-angin; MBAKO/CEGAH = Peranginangin Pinem; TANGKO = Perangin-angin Sinurat.
 
6. Rurun-rurun Beru Karo, yaitu: NUHAR = Beru Karo Purba; CORAH = Beru Karo Sinulingga; GODA = Beru Karo-karo Sitepu; AME KERTAH ERNALA = Beru Ketaren; MEGOH = Beru Karo Surbakti di Kuta Buluh; NGERBO = Beru Karo Kacaribu.
  
7. Rurun-rurun Beru Ginting, yaitu: SULNGAM = Beru Ginting Suka; TADI = Beru Ginting Manik; UNJUK = Beru Ginting Munte; TEGA = Beru Ginting Tumangger.

8. Rurun-rurun Beru Sembiring, yaitu: ROGOT = Beru Sembiring Guru Kinayan; LENCANG = Beru Sembiring; TAJAK = Beru Sembiring Depari; TEKANG = Beru Sembiring Milala; NANIT = Beru Sembiring Maha; LEGAM = Beru Sembiring Depari; MAGAR = Nenek Sembiring Berahmana Limang.

9. Rurun-rurun Beru Tarigan, yaitu: DOMBAT = Beru Tarigan Rumah Jahe Juhar; PAGIT = Beru Tarigan Sibero Juhar; KERNA = Beru Tarigan Sibero Rumah Julu; OMBAR = Beru Tarigan Gersang Pergendangen.

10. Rurun-rurun Perangin-angin, yaitu:  AMO= Beru Perangin-angin Jambur Beringen; GIRIK = Beru Perangin-angin Bangun; GOMOK = Beru Perangin-angin Kuta Buluh; JENGOK = Beru Perangin-angin Sebayang; LOMPOH = Beru Perangin-angin Pinem; OKUP = Nini Perangin-angin Bangun; TANGGAM = Beru Perangin-angin Jinabun; NGEMBAN = Beru Perangin-angin Sinurat.
                 
            Nah, Pembaca yang budiman, kiranya tulisan singkat ini dapat menambah pengetahuan kita bersama. Kalau ada teman, sanak famili atau teman sejawat kita dengan marga atau beru sebagaimana disebut diatas, cobalah panggil dengan nama rurunnya. Saya yakin mereka pasti tersenyum simpul dan akan bertanya, ”dari mana kamu tahu?”, dan hubungan kita dengan mereka akan semakin akrab serta sangat berpotensi menjadikan persahabatan yang kental.
            Akhir kata, benar sekali apa yang dulu dikatakan Pa Bahung, katanya : “sitandan me kite-kitena kita banci sikeleng-kelengen,  la siangkan me erban melukah kita sikeng-kengen” (Tak kenal maka tak sayang).

*Staff Pengajar i  Universitas Quality; Sekretaris Paroki St. Fransiskus Asisi Berastagi; Sekretaris Lembaga Pusaka Karo.